Contoh Mental Health
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) diperingati pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan isu kesehatan jiwa dan memobilisasi upaya yang mendukung isu ini. Tema tahun ini, “Greater Investment, Greater Access”, berfokus pada generasi muda yang pada era serba cepat dan berubah, menghadapi beragam tantangan yang berat dan lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Salah satu faktor penyebabnya adalah berkembangnya teknologi yaitu internet. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2017) menunjukkan bahwa internet paling banyak digunakan oleh orang muda terutama untuk chatting dan media sosial. Melalui media sosial, individu menjadi lebih mudah dalam berkomunikasi dan mengetahui perkembangan kehidupan dari orang sekitarnya. Di sisi lain, beragam penelitian juga menunjukkan bahwa adanya faktor-faktor risiko penggunaan internet seperti cyberbullying hingga meningkatnya tingkat kecemasan seseorang karena selalu membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain.
Oleh sebab itu, penting membekali orang muda pengguna media sosial agar menggunakan secara sehat, agar menghindari akibat-akibat buruk dan lebih memanfaatkan sisi positifnya. Selain pengguna, adanya upaya yang dilakukan penyedia layanan media sosial untuk mengantisipasi sisi negatif juga merupakan hal yang sangat diperlukan. Bahkan, dibanding hanya fokus mencegah hal-hal negatif, penggunaan media sosial justru merupakan media strategis untuk melakukan intervensi krisis kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri seseorang.
Sekarang kita menuju ke Bipolar. Apa sih bipolar itu? Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis, misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif.
Faktor Risiko Gangguan Bipolar
Terdapat berapa faktor yang diduga meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar, yakni:
Mengalami stres berat.
Kejadian traumatik.
Kecanduan akan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
Memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orangtua) yang mengidap gangguan bipolar.
Gejala Gangguan Bipolar
Terdapat dua fase dalam gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun). Pada periode mania, pengidapnya jadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, pengidapnya akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan perputaran episode suasana hati, ada sebagian pengidap gangguan bipolar yang mengalami keadaan normal di antara mania dan depresi. Ada juga yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling). Selain itu, ada juga pengidap yang mengalami mania dan depresi secara bersamaan. Contohnya, ketika pengidap merasa sangat berenerjik, tetapi di saat bersamaan juga merasa sangat sedih dan putus asa. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state).
Diagnosis Gangguan Bipolar
Diagnosis lebih lanjut mengenai kondisi ini sangat dibutuhkan, sebab gejala gangguan bipolar mirip dengan kondisi lain, seperti penyakit tiroid, serta dampak dari kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA. Pemeriksaan yang dilakukan bisa dengan metode wawancara ke keluarga atau kerabat pengidap gangguan bipolar. Wawancara ini terkait gejala, seperti sejak kapan dan seberapa sering gejala muncul.
Pengidapnya juga kemudian akan dirujuk ke psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa. Psikiater akan melakukan beberapa pengamatan terkait pola bicara, berpikir, dan bersikap. Pskikiater juga mungkin akan menanyakan riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit, hingga pola tidur. Pengidapnya juga mungkin akan diberikan kuesioner yang dapat diisi. Saat hasil pemeriksaan dirasa cukup, psikiater kemudian akan mengklasifikasikan kondisi seseorang berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Komentar
Posting Komentar